prefektur Fukushima (AP Photo/DigitalGlobe)
• VIVAnews
- Blog Majalah Informasi dan Hiburan
VIVAnews - Masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akan adanya radiasi nuklir Jepang. Pasalnya arah angin tidak berhembus ke arah Indonesia melainkan ke arah timur Jepang.
"Kecil kemungkinannya Indonesia terkena radiasi dari Jepang karena angin tidak mengarah kepada kita," kata Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG, Kukuh Ribudiyanto, saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 29 Maret 2011 malam.
Indonesia yang berada di sebelah selatan Jepang dan berjarak lebih dari 4.000 km tidak akan terkena radiasi tersebut karena pada bulan ini angin berhembus ke arah timur. Sedangkan pada bulan April, angin akan berhembus dari Australia melalui Indonesia ke arah China.
Kukuh pun menegaskan bahwa posisi Indonesia yang membelakangi Jepang membuat Indonesia aman dari radiasi. Masyarakat dihimbau untuk tidak lagi khawatir dengan dampak radiasi nuklir Jepang yang menyebar ke beberapa negara.
Seperti yang telah diketahui terdapat tiga negara tetangga Jepang yang terkena radiasi yakni Filipina, China dan Korea Selatan. Hal ini dideteksi dari adanya partikel-partikel nuklir di udara.
VIVAnews - Para pekerja yang bertahan untuk mengatasi kerusakan di reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi dikabarkan dibayar mahal. Walaupun demikian, hanya sedikit pekerja yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Jepang dari krisis radiasi yang lebih parah.
Seperti dilansir dari laman Daily Mail, Rabu, 30 Maret 2011, perusahaan operator PLTN sebelumnya menawarkan gaji hingga lebih dari 100.000 yen per harinya, atau sekitar Rp10,6 juta, jika mau tetap tinggal memperbaiki reaktor. Gaji ini 20 kali lipat dari gaji normal pekerja sebelum krisis terjadi.
Namun, hanya segelintir orang yang mau mengambil tawaran ini. Sebanyak 200 orang pemberani yang tinggal dijuluki sebagai samurai nuklir. Mereka menghabiskan hari-hari di PLTN bertaruh nyawa, bertarung dengan resiko besar.
Perangkat yang mereka pakai dikabarkan juga tak memadai. Beberapa hari lalu, dua orang pekerja terbakar kakinya setelah melalui genangan air yang mengandung plutonium. Sepatu mereka pakai ternyata tak menutupi hingga atas mata kaki.
Tingkat radiasi di lokasi itu juga masih belum stabil. Air laut dan beberapa genangan air yang diduga bocor dari salah satu reaktor mengandung radiasi berkadar 1.000 miliseverts per jamnya.
Shingo Kanno, seorang warga yang ditawari bekerja membantu di reaktor, mengatakan perusahaan menawarkan gaji besar karena sadar pekerjaan itu berbahaya. "Mereka tahu itu bahaya, jadi mereka harus membayar 20 kali lipat dari biasanya," ujar Kanno.
Kanno mengatakan dia menolak tawaran perusahaan untuk tetap tinggal, karena tahu resiko yang akan dihadapi. "Istri saya dan seluruh keluarga menentangnya karena itu sangat berbahaya," kata Kanno.
Keadaan di reaktor masih jauh dari membaik. Radiasi dan kebocoran terus meningkat, menyebabkan resiko pekerja terpapar zat radioaktif sangat besar. Pencatatan pada Jumat pekan lalu menunjukkan tingkat radiasi 1.250 kali lebih tinggi dari batas normal.
Air laut di luar PLTN juga dikabarkan sudah terkontaminasi radioaktif. Menurut pengujian, air laut di lokasi tersebut mengandung radiasi 3.335 kali lipat dibanding sebelum terjadi krisis.
Meski terpaut jarak ribuan kilometer, dampak krisis nuklir yang disebabkan bocornya reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima, Jepang sampai Amerika Serikat. Melalui hujan.
Partikel radioaktif ditemukan dalam sampel air hujan yang turun di Massachusetts selama seminggu belakangan di 100 lokasi di wilayah itu. Itu menurut hasil pengawasan oleh U.S. Environmental Protection Agency's Radiation Network, yang diumumkan Minggu 27 Maret 2011 lalu.
Unsur nuklir, radioiodine-131 yang terdeteksi di negara bagian Massachusetts juga ditemukan di wilayah lain di AS, sepeti California, Washington, Colorado, Hawaii, dan Pennsylvania. Sementara, tak ditemukan unsur radioaktif di sample udara di lokasi yang sama di Massachusetts.
Meski demikian, pejabat setempat mengatakan, masyarakat tak perlu khawatir.
"Air minum di Massachusetts tidak terpengaruh dengan radiasi level rendah dalam jangka pendek ini," Komisioner Kesehatan Masyarakat Massachusetts, John Auerbach seperti dimuat MSNBC, Senin 28 Maret 2011. "Kami tetap melakukan monitoring secara berhati-hati, kami juga sedang mempelajari penyebabnya."
Menteri Urusan Energi dan Lingkungan, Richard K. Sullivan Jr telah memerintahkan Departemen Perlindungan Lingkungan Hidup, untuk mengumpulkan sampel tambahan untuk melakukan pengujian lebih lanjut di Massachusetts. Hasilnya akan segera diumumkan dalam beberapa hari.
Seiring kekhawatiran dunia atas efek krisis nuklir Jepang, Negeri Matahari Terbit itu masih berjuang mengendalikan reaktor Fukushima, agar tak menjadi bencana dahsyat. Akhir pekan lalu, beredar kabar air radiasi tingkat tinggi dari sejumlah reaktor nuklir di kompleks pembangkit listrik Fukushima.
Menurut kantor berita Associated Press - dengan mengutip keterangan dari pengelola PLTN, Tokyo Electric Power Co. - air dengan kandungan radiasi tinggi ditemukan di bangunan reaktor Unit 1. Fukushima terletak lebih dari 200 km sebelah utara Tokyo.
Genangan air juga ditemukan di bangunan Unit 2 dan 4. Pengelola menduga bahwa air itu juga mengandung radioaktif tingkat tinggi.
Pemerintah Jepang telah mengevakuasi penduduk di sektar PLTN dengan radius hingga 20 kilometer (km). Mereka yang tinggal pada radius hingga 30 km dari PLTN juga harus tinggal di dalam rumah. Sedangkan pemerintah Amerika Serikat (AS) menyarankan agar warga jangan berada di radius 80 km dari PLTN. (SJ)
eFBez Copyright © 2010
